Petualangan seringkali digambarkan sebagai perjalanan penuh kegembiraan, persahabatan, dan pencapaian luar biasa. Namun, bagaimana jika petualangan itu datang dengan label “tidak diinginkan”? Bagaimana jika protagonis kita bukanlah seorang pahlawan gagah berani, melainkan seorang mayat hidup yang ditolak oleh dunia? Kisah “The Unwanted Undead Adventurer” menawarkan perspektif unik ini, menelusuri perjalanan seorang mayat hidup yang berusaha menemukan tempatnya di dunia yang menolak keberadaannya.
Bayangkan seorang mayat hidup, bukan zombie yang haus otak, tetapi sosok yang lebih kompleks. Dia mungkin memiliki ingatan tentang hidupnya yang lalu, mungkin merasakan emosi yang rumit seperti kesedihan, penyesalan, atau bahkan keinginan untuk diterima. Dia mungkin memiliki keterampilan dan kemampuan unik yang membuatnya menjadi petualang yang tangguh, meskipun statusnya sebagai mayat hidup membuatnya menjadi outcast dalam masyarakat.
Dia adalah “The Unwanted Undead Adventurer”, dan perjalanannya dimulai dengan penolakan. Dia dijauhi oleh manusia yang hidup, dikucilkan oleh komunitas mayat hidup lainnya, dan dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya. Kehidupan barunya sebagai mayat hidup bukanlah pilihannya, tetapi dia harus belajar untuk menerimanya dan menemukan tujuan di tengah kesulitan yang dihadapinya.
